Senin, 26 Maret 2012

pendekatan kecakapan hidup




PENDEKATAN KECAKAPAN HIDUP

MAKALAH
Untuk memenuhi tugas Matakuliah
Strategi Pembelajaran
Yang dibina oleh Bapak Sapir


Oleh
Roshidatun Nadhiroh (100431401672)
Nina Juliastuti             (100431401673)
Aulia Nur Rosyidah    (100431401675)

UNM








UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN EKONOMI PEMBANGUNAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI
Februari 2012




BAB II
KAJIAN TEORI

2.1 Pengertian Kecakapan Hidup
Banyak pendapat dan literatur yang mememukan bahwa pengertian kecakapan hidup bukan sekedar keterampilan untuk bekerja (vokasional) tetapi memiliki makna yang lebih luas. WHO (1997) mendefinisikan bahwa kecakapan hidup sebagai keterampilan atau kemampuan untuk dapat beradaptasi dan berperilaku positif, yang memungkinkan seseorang mampu menghadapi berbagai tuntutan dan tantangan dalam kehidupan secara lebih efektif. Kecakapan hidup mencakup lima jenis yaitu: (1) kecakapan mengenaldiri, (2) kecakapan berpikir, (3) kecakapan sosial, (4) keecakapan akademik, dan (5) kecakapan kejuruan .
            Barrie Hopson dan Scally (1981) mengemukakan bahwa kecakapan hidup merupakan pengembangan diri untuk bertahan hidup, tumbuh, dan berkembang, memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dan berhubungan baik secara individu, kelompok maupun sistem dalam menghadapi situasi tertentu. Sementara Brolin (1989) mengartikan lebih sederhana yaitu bahwa kecakapan hidup merupakan interaksi dari berbagai pengetahuan dan kecakapan sehingga seseorang mampu hidup mandiri. Pengertian keecakapan hidup tiddak semata-mata meemiliki kemampuan tertentu (vocational job), namun juga memiliki kemampuan dasar pendukung secara fungsional seperti : membaca, menulis, berhitung, merumuskan dan memecahkan masalah, mengeelola sumber daya, bekerja dalam kelompok, dan menggunakan teknologi (Dikddasmen, 2002)
            Dari pengertian di atas, dapat diartikan bahwa pendidikan kecakapan hidup merupakan kecakapan-kecakapan yang secara praksis dapat membekali peserta didik dalam mengatasi berbagai macam persoalan hidup dan kehidupan. Kecakapan itu menyangkut aspek pengetahuan, sikap yang di dalamnya termasuk fisik dan mental serta kecakapan kejuruan yang berkaitan dengan pengembangan akhlak peserta didik sehingga mampu menghadapi tuntutan dan tantangan hidup dalam kehidupan. Pendiddikan kecakapan hidup dapat dilakukan melalui kegiatan intra/ekstrakulikuler untuk mengembangkan potensi peserta didik  sesuai dengan karakteristik, emosional, dan spiritual dalam prospek pengembangan diri, yang materinya menyatu pada sejumlah mata pelajaran yang ada. Penentuan isi dan bahan pelajaran kecakapan hidup dikaitkan dengan keadaan dan kebutuhan lingkungan agar peseerta didik mengenal dan memiliki bekal dalam menjalankan keehidupan di kemudian hari. Isi dan bahan pelajaran tersebut menyatu dalam mata pelajaran yang terintegrasi sehingga secara struktur tidak berdiri sendiri.  

2.2  Konsep Dasar Kecakapan Hidup
Kecakapan hidup dapat dipilah menjadi dua jenis utama, yaitu:
a.      Kecakapan hidup yang bersifat generik (Generic Life Skill/GLS), yang mencakup keadaan personal (personal skill/PS) dan kecakapan sosial (social skill/SS). Kecakapan personal mencakup kecakapan akan kesadaran diri atau memahami diri (self awareness) dan kecakapan berpikir (thinking skill), sedangkan kecakapan sosial mencakup kecakapan berkomunikasi (communication skill) dan kecakapan bekerjasama (collaboration skill).
b.      Kecakapan Hidup Spesifik (Specific Life Skill/SLS), yaitu kecakapan untuk menghadapi pekerjaan atau keadaan tertentu, yang mencakup kecakapan akademik (academic skill) atau kecakapan intelektual dan kecakapan vokasional (vocational skill). Kecakapan akademik terkait dengan bidang peekerjaan yang lebih memerlukan peemikiran, sehingga mencakup kecakapan meengidentifikasi variable dan hubungan antara satu dengan yang lainnya (identifying variables and describing relationship among them), kecakapan merumuskan hipotesis (constructing hypotheses), dan kecakapan merancang dan melaksanakan penelitian (designing and implementing a research). Kecakapan vokasional terkait dengan bidang pekerjaan yang lebih memerlukan keterampilan motorik. Kecakapan vokasional mencakup kecakapan vokasional dasar (basic vocational skill) dan kecakapan vokasional khususs (occupational skill).
Kecakapan kesadaran diri pada dasarnya merupakan penghayatan diri sebagai hamba Tuhan Yang Maha Esa, sebagai anggota masyarakat dan warga Negara, sebagai bagian dari lingkungan, serta menyadari dan mensyukuri kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, sekaligus menjadikannya sebagai modal untuk meningkatkan diri sebagai individu yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun lingkungannya.

2.3  Tujuan dilaksanakannya Life Skill dalam kegiatan pembelajaran di kelas
Tujuan pendidikan Life Skill dapat mengacu pada UU No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 1 yang menjelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Secara umum tujuan Life Skill adalah untuk mengembalikan pendidikan pada fitrohnya yaitu mengembangkan potensi peserta didik untuk menghadapi penerapannya di masa yang akan datang. Secara khusus pendidikan Life Skill bertujuan untuk :
1.      mengaktualisasikan potensi peserta didik sehingga dapat digunakan untuk memecahkan problema yang dihadapi.
2.      Memberi kesempatan kepada kepala sekolah untuk mengembangkan pembelajaran yang fleksibel, sesuai dengan prinsip pendidikan berbasis luar (Broad Based Education)
3.      Mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya lingkungan sekolah, dengan memberi peluang pemanfaatan sumber daya yang ada di masyarakat sesuai dengan prinsip manajemen berbasis sekolah (School Based Management)

2.4  Kriteria, Sasaran, dan Bidang Kerja Life Skill
·         Kriteria Life Skill
Kriteria dalam penyelenggaraan program pendidikan kecakapan hidup (life skill) ini harus meliputi:
a.       Penggalian berdasarkan karakteristik masyarakat dan potensi daerah setempat.
b.      Pengembangan berdasarkan hasil identifikasi kebutuhan keelompok sasaran.
c.       Adanya dukungan dari pemerintah setempat.
d.      Prospektif untuk berkembang dan berkesinambungan.
e.       Ketersediaan nara sumber teknis dan prasarana untuk praktek ketrampilan yang memadai.
f.       Memiliki potensi untuk mendapatkan dukungan pendanaan dari berbagai sector.
g.      Berorientsi pada peningkatan kompetensi keterampilan berusaha.
·         Sasaran Life Skill
Adapun sasaran daripada penyelenggaraan program pendidikan kecakapan hidup (life skills) ini yaitu sebagai berikut:
1.      Dipriorotaskan bagi masyarakat usia 16-44 tahun yang tidak sekolah dan tidak bekerja.
2.      Warga belajar binaan skb (sanggar kegiatan belajar) atau warga masyarakat putus atau tamat sd/sltp.
3.      Berasal dari keluarga miskin atau tidak mampu.
4.      Memiliki minat dan bakat tertentu.
·         Bidang Pengembangan Life Skill
Secara garis besar bidang-bidang yang dapat dijadikan rujukan dalam pengembangan program pendidikan Life Skill, antara lain:
1)        Produksi Ekstraktif
Produksi ekstraktif yaitu peembeelajaran yang meemproduksi/ menghasilkan suatu barang yang langsung diperoleh dari alam, seperti: perikanan, perhutanan, dan pertambangan.
2)        Produksi Agraris
Produksi agraris yaitu peembelajaran mengolah tanah bagi kegiatan pertanian, seperti: tanaman pangan, sayuran, bunga dan buah-buahan serta pengembangan berbagai jenis ternak.
3)        Produksi Industry
Produksi industry yaitu pembelajaran yang mengolah, merakit, memperbaiki, dan merekayasa suatu jenis bahan baku menjadi bahan setengah jadi maupun bahan setengah jadi menjadi bahan setengah jadi.

4)        Produksi Perdagangan
Produksi perdagangan yaitu pembelajaran melalui usaha perdagangan seperti berjual beli, melakukan usaha mandiri, analisis pasar, perhitungan laba rugi dan pengembangan usaha.
5)        Produksi Jasa
Produksi jasa yaitu pembelajaran yang melakukan keegiatan pelayanan berupa jasa yang diperlukan oleh pengguna jasa berdasarkan criteria pelayanan yang disepakati, serperti jasa sopir, tat arias rambut dan wajah, penerjemah bahasa, pengajar dan pertukangan.

2.5  Jenis-jenis Life Skill
Jenis-jenis kecakapan hidup yang perlu dikembangkan melalui pengembangan belajar antara lain meliputi :
  1. Kecakapan diri (personal skill)
    • Penghayatan diri sebagai makhluk Tuhan YME
    •  Mandiri
    • Motivasi berprestasi
    • Komitmen
    • Percaya diri
  2. Kecakapan berpikir rasional (thinking skill)
    • Berpikir kritis dan logis
    • Berpikir sistematis
    • Cakap menyusun rencana secara sistematis
    • Cakap memecahkan masalah secara sistematis
  3. Kecakapan sosial (Social skill)
    • Kecakapan berkomunikasi lisan/tertulis
    • Kecakapan bekerjasama, kolaborasi, lobi
    • Kecakapan berpartisipasi
    • Kecakapan mengelola konflik
    • Kecakapan mempengaruhi orang

  1. Kecakapan akademik (Academic skill)
    • Kecakapan merancang, melaksanakan, dan melaporkan hasil penelitian ilmiah
    • Kecakapan membuat karya tulis ilmiah
    • Kecakapan  mentransfer dan mengaplikasikan hasil-hasil penelitian untuk memecah-kan masalah, baik berupa proses maupun produk.
  2. Kecakapan vokasional (Vocational Skill)
    • Kecakapan menemukan algoritme, model, prosedur untuk mengerjakan suatu tugas
    • Kecakapan melaksanakan prosedur
    • Kecakapan mencipta produk dengan menggunakan konsep, prinsip, bahan dan alat yang telah dipelajari



















BAB III
PENERAPAN LIFE SKILL DALAM PEMBELAJARAN
EKONOMI DI SEKOLAH

3.1 Hubungan Antara Kehidupan Nyata, Kecakapan Hidup, dan Mata Pelajaran
            Mungkin akan muncul pertanyaan, lantas, bagaimana hubungan antara kehidupan nyata dengan mata pelajaran? Di sekolah diajarkan berupa mata pelajaran/mata diklat, dan ujiannya juga berupa ujian mata pelajaran/mata diklat.
            Gambar 1.1 menunjukkan hubungan antara kenyataan hidup, kecakapan hidup dan mata pelajaran. Anak panah dengan garis patah-patah menunjukkan alur rekayasa kurikulum, yang meliputi beberapa tahap. Pada tahap awal, dilakukan identifikasi kecakapan hidup yang diperlukan untuk meenghadapi kehidupan nyata di masyarakat, khusunya yang sesuai dengan jenis dan jenjang pendidikan yang dirancang kurikulumnya. kecakapan hidup secara utuh yang diperlukan oleh lulusan itu pararel dengan kompeteensi lulusan. identifikasi itu dilakukan dengan mengamati dan mempredikasi pola kehidupan masyarakat, baik pada saat ini maupun preediksi di masa datang. Dari kecakapan hidup yang terindentifikasi, kemudian diideentifikasi pengetahuan, keterampilan dan sikap yang mendukung pembentukan kecakapan hidup tersebut. Pengetahuan, keterampilan dan sikap itulah yang selanjutnya diramu menjadi mata pelajaran/mata disekolah.
            Dalam proses pembelajaran, mata pelajaran itu harus dikaitkan dengan konteeks kehidupan sehari-hari siswa, sehingga dapat membentuk kecakapan hidup yang sesuai dengan kehidupan nyata di masyarakat. Kecakapan hidup itulah yang nantinya digunakan oleh anak didik memasuki kehidupan  nyata di masyarakat. Pada Gambar 1.1, alur tersebut ditunjukkan dengan anak panah garis solid


 






Gambar 1.1 Skema hubungan nyata, pelajaran, dan kecakapan hidup
Dari pemahaman tersebut, sekali lagi mata pelajaran adalah “alat”, sedangkan yang ingin dicapai adalah pembentukan kecakapan hidup. Kecakapan hidup itulah yang diperlukan pada saat seseorang sebagai suatu kompetensi guna memasuki kehidupan sebagai individu yang mandiri, anggota masyarakat dan warga negara. Oleh karena itu tujuan utama belajar suatu mata pelajaran  adalah untuk mencapai kompetensi yang mencakup pengetahuan, keterampilan dan sikap dan diwujudkan dalam perilaku tertentu. Perilaku itu diharapkan merupakan bagian dari perilaku secara utuh, yaitu kecakapan hidup.

3.2 Penerapan Life Skill dalam Pelajaran Ekonomi
            Mempelajari ekonomi di sekolah bukan sekedar untuk menghafal dan menganalisis Ekonomi, tetapi juga agar seseorang memilki kompetensi dalam memanfaatkannya dalam kehidupan sehari-hari, mengetahui masalah ekonomi, menganalisis masalah ekonomi, mempelajari ilmu lain dan seterusnya. Demikian pula mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, bukan sekedar faham bahasanya, tetapi mampu menggunakannya untuk bernalar, mengungkapkan dan menyampaikan buah pikiran dalam bentuk komunikasi yang efektif. Begitu pula halnya dengan mata pelajaran atau mata diklat Pendidikan Kewarganegaraan, bukan sekedar untuk memahami prinsip dan aturan kewarganegaraan, tetapi lebih dari itu, yaitu agar peserta didik maupun menerapkan pengetahuannya dalam kehidupan sehari-harinya.









RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

Nama sekolah              : SMP Negeri 1 Singosari
Kelas /semester           : VII / II
Mata Pelajaran             : IPS/Ekonomi
Standar Kompetensi    : 6. Memahami kegiatan ekonomi masyarakat
Kompetensi Dasar        : 6.4 Mengungkapkan gagasan kreatif dalam tindakan ekonomi untuk mencapai kemandirian dan kesejahteraan
Indikator                       : 6.4.1 Mendeskripsikan tindakan ekonomi yang kreatif
                                      6.4.2 Mendeskripsikan tindakan kreatif meningkatkan kemandirian
Alokasi Waktu            : 2 X 40 menit ( 1 X pertemuan )
 


A.      Tujuan Pembelajaran
Berdasarkan indikator diatas maka tujuan yang diharapkan adalah peserta didik mampu:
6.4.1 Mendeskripsikan pengertian kreatif
6.4.2 Menjelaskan pengertian inovatif
6.4.3 Menjelaskan jiwa kewirausahaan
6.4.4 Menjelaskan proses kemandirian
6.4.5 Mendeskripsikan tindakan kreatif meningkatkan kemandirian
B.       Materi Pembelajaran
1.        Pengertian kreatif
2.        Pengertian inovatif
3.        Jiwa kewirausahaan
4.        Proses kemandirian
5.        Tindakan ekonomi yang kreatif meningkatkan kemandirian
C.      Sumber Belajar
Buku ajar :
Sugiharjo, dkk.2008. Contextual Teaching and Learning ILMU PENGETAHUAN SOSIAL: Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah Kelas VII Edisi 4. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

D.      Alat dan Media Pembelajaran
1.   Alat bantu             : Meja, kursi, spidol, papan tulis, penghapus, LCD, Laptop
2.   Media                    : Powerpoint, Wacana atau Kliping, Hand out (Ringkasan Materi Tentang Gagasan Kreatif dan Inovatif)
                                   
E.       Strategi Pembelajaran
1.    Pendekatan        : CTL      
2.    Metode              : Ceramah, Tanya Jawab dan Diskusi Kelompok       
3.    Teknik / Model    : COOPERATIVE INTEGRATED READING  AND COMPOSITION (CIRC) (KOOPERATIF TERPADU MEMBACA DAN MENULIS)
Langkah-langkah:
      Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang yang secara heterogen
      Guru memberikan wacana/kliping sesuai dengan topik pembelajaran
      Siswa bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana/kliping dan ditulis pada lembar kertas
      Mempresentasikan/membacakan hasil kelompok
      Guru membuat kesimpulan bersama
      Penutup
F.       Skenario Pembelajaran
No
Kegiatan
Uraian Kegiatan
Life Skill
Metode
Alokasi Waktu
Guru
Peserta Didik
1.
Pendahuluan
·   Membuka pelajaran dengan salam, presensi, mengkon-disikan dan menghangatkan suasana kelas.
·   Menyampaikan pada peserta didik tentang tujuan pembelajaran
·   Memberikan gambaran tentang pola kegiatan ekonomi pertanian
·   Mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari
Mendengarkan dan menyimak dengan baik apa yang disampaikan guru
Kecakap- an berfikir, akademik



Kecakapan berfikir


Kecakapan berfikir



Kecakapan berfikir
Ceramah dan Tanya jawab
10 menit
2.
Inti
·   Menjelaskan materi




·   Membentuk kelas menjadi kelompok dengan masing-masing kelompok terdiri atas 4 peserta didik
·   Menjelaskan aturan permainan
·   Memberi wacana atau kliping
·   Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk berdiskusi dan bekerja sama untuk menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana/kliping dan ditulis pada lembar kertas
Kliping: memuat permasalahan mengenai suatu usaha dimana siswa di ajak untuk menemukan gagasan kreatif dan inovatif untuk memajukan usaha tersebut.
·   Salah satu kelompok mempresentasikan hasil diskusinya
·   Kelompok lain membandingkan dan menanggapi kelompok yang presentasi
Mendengarkan dan menyimak dengan baik apa yang disampaikan guru
Membentuk kelompok







Memperhati- kan guru

Menerima wacana atau kliping
Peserta didik bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana/kliping dan ditulis pada lembar kertas















Membandingkan dan menaggapi presentasi kelompok
Kecakapan personal, kecakapan akademik



Kecakapan personal dan kecakapan berkomunikasi





Kecakapan berfikir dan berkomunikasi

Kecakapan berfikir
























Kecakapan berkomunikasi dan berfikir akademik
Ceramah diskusi, tanya jawab
60 menit
3.
Penutup
·   Bersama peserta didik menyimpulkan materi
·   Memberi tugas rumah kepada peserta didik
·   Menutup pelajaran dengan mengucapkan salam
Bersama guru menyimpulkan materi

Memperhati- kan

Menjawab salam
Kecakapan berfikir, akademik

Kecakapan berfikir

Kecakapan komunikasi

Ceramah dan penugas-an
10 menit



BAB IV
PENUTUP

4.1         Kesimpulan
Pendidikan kecakapan hidup merupakan kecakapan-kecakapan yang secara praksis dapat membekali peserta didik dalam mengatasi berbagai macam persoalan hidup dan kehidupan. Tujuan pendidikan Life Skill dapat mengacu pada UU No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 1 yang menjelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Kecakapan hidup dapat dipilah menjadi dua jenis utama, yaitu 1) Kecakapan hidup yang bersifat generik, 2) Kecakapan hidup spesifik.  Life skill memiliki sasaran, kriteria dan bidang tertentu yangmana berguna dalam menunjang tujuan dari Life Skill itu sendiri. Adapun jenis-jenis Life Skill yaitu, 1) Kecakapan diri (personal skill), 2) Kecakapan berpikir rasional (thinking skill), 3) Kecakapan sosial (Social skill), 4) Kecakapan akademik (Academic skill), 5) Kecakapan vokasional (Vocational Skill).
Mempelajari ekonomi di sekolah bukan sekedar untuk menghafal dan menganalisis Ekonomi, tetapi juga agar seseorang memilki kompetensi dalam memanfaatkannya dalam kehidupan sehari-hari, mengetahui masalah ekonomi, menganalisis masalah ekonomi, mempelajari ilmu lain dan seterusnya.

4.2         Saran
Dalam upaya menunjang keberhasilan siswa untuk dapat mencapai tujuan pembelajaran yang ada berkaitan dengan pemakaian pendekatan kecakapan hidup (life skill), hendaknya tetap ada komunikasi antara guru dan siswa, dimana guru dapat memberikan arahan untuk membantu siswa dalam mengembangkan potensi dirinya.



DAFTAR RUJUKAN

Dimyati, Mujiono.2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Sanjaya, Wina. 2007. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana.
Strategi Pembelajaran. Sapir, dan Prih Hardinto.2010. Strategi Pembelajaran Ekonomi di Sekolah.FE.UM
________. _________. Pengembangan Kecakapan Hidup. (online), http://elearning.unesa.ac.id/myblog/alim-sumarno/pengembangan-kecakapan-hidup-life-skill, diakses pada tanggal 17 Februari 2012 pukul 11:34.
________. ________. PNPM Perdesaan. (online),  http://www.pnpm-perdesaan.or.id/downloads/Bacaan%20Life%20Skill.pdf, diakses pada tanggal 17 Februari 2012 pukul 11:40.


DIA

Dia

Dia..
Selalu beri warna
selalu ada dalam lubuk jiwa
memberi rasa
berbeda dari yang lainya
berikan warna
dalam dunia nyata
ukirkan cinta
tak pernah berakhir untuk selamanya
dia..
dia..
eki amalia..
ada kala sedih ada duka
temanku sepanjang masa

Sabtu, 12 November 2011

makalah pertumbuhan fisik remaja


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pertumbuhan pada setiap individu berlangsung terus menerus dan tidak dapat diulang kembali. Setiap individu pasti mengalami suatu tahapan pertumbuhan (masa) dalam hidupnya, salah satunya adalah masa remaja. Masa remaja merupakan masa yang dapat dikatakan masa yang paling indah, karena pada masa ini remaja mulai merasakan hal baru pada dirinya, berkaitan dengan fisik maupun psikisnya. Namun, masa remaja juga merupakan masa yang rentan terhadap perbuatan-perbuatan yang kurang baik. Hal ini dapat diakibatkan karena mereka suka mencoba hal-hal baru yang belum tentu semua itu baik untuk mereka.

Pada masa remaja terjadi perubahan-perubahan fisik, baik yang bersifat struktural maupun fungsinya yang berbeda antara remaja laki-laki dan remaja perempuan. Gejala-gejala perubahan fisik remaja muncul ketika anak mulai memasuki masa awal remaja, dimana perubahan tersebut hampir selalu disertai dengan perubahan sikap dan perilaku. Perubahan tersebut merupakan salah satu dampak dari pengalaman yang belum pernah dirasakannya. Hal ini menyebabkan sering terjadinya permasalahan ataupun ketidakseimbangan pada diri remaja. Ketidakseimbangan inilah yang dapat memengaruhi pendidikan. Oleh sebab itu makalah ini disusun untuk mengetahui dampak dari pertumbuhan fisik remaja dan implikasinya terhadap pendidikan.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang disebut dengan pertumbuhan fisik remaja?

2. Apa saja bentuk-bentuk perubahan fisik remaja?

3. Apa penyebab adanya perubahan fisik remaja?

4. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan fisik remaja?

5. Apa pengaruh pertumbuhan fisik terhadap tingkah laku remaja?

6. Apa saja upaya pertumbuhan fisik remaja dan implikasinya terhadap pendidikan?

1.3 Tujuan

1) Untuk mengetahui pengertian pertumbuhan fisik remaja.

2) Untuk mengetahui bentuk-bentuk perubahan fisik remaja.

3) Untuk mengetahui penyebab perubahan fisik pada masa remaja.

4) Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan fisik remaja.

5) Untuk mengetahui pengaruh pertumbuhan fisik terhadap tingkah laku remaja.

6) Untuk mengetahui upaya pertumbuhan fisik remaja dan implikasinya terhadap pendidikan.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pertunbuhan Fisik Remaja

“ Pertumbuhan diartikan sebagai suatu penambahan dalam ukuran bentuk, berat atau ukuran dimensif tubuh serta bagian-bagiannya” (Mappiare, 1982:43). “Pertumbuuhan pada umumnya terbatas pengertiannya pada perubahan-perubahan struktural dan pisiologis (hal kerja pisik dalam pembentukkan seseorang secara pisikologis dari masih berbentuk konsepsional (awal janin) melelui periode-periode pre-natal (belum lahir) dan post-natal (setelah lahir) sampai pada saat dewasa” (Mappiare, 1982:43).

Pertumbuhan fisik remaja merupakan pertumbuhan yang paling pesat. Remaja tidak hanya tumbuh dari segi ukuran (semakin tinggi atau semakin besar), tetapi juga mengalami kemajuan secara fungsional, terutama organ seksual atau “pubertas”. Hal ini ditandai dengan datangnya mensturasi pada perempuan dan pada perempuan dan mimpi basah pada laki-laki.

Pertumbuhan berkaitan dengan perubahan fisik secara kuantitatif yang menyangkut peningkatan ukuran dan struktur biologis. Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil proses pematangan fungsi dalam perjalanan waktu tertentu (Fatimah, 2010:41). Perubahan ini berkisar hanya pada aspek-aspek individu. Pertumbuhan ini meliputi perubahan yang bersifat internal maupun eksternal. Pertumbuhan internal meliputi perubahan ukuran alat pencernaan, bertambahnya ukuran besar dan berat jantung dan paru-paru, bertambah sempurna sistim kelenjar kelamin, dan berbagai jaringan tubuh. Adapun perubahan eksternal meliputi bertambahnya tinggi badan, bertambahnya lingkar tubuh, perbandingan ukuran panjang dan lebar tubuh, ukuran besarnya organ seks, dan munculnya atau tumbuhnya tanda-tanda kelamin sekunder.

Secara umum, terjadi pertumbuhan fisik yang sangat pesat dalam masa remaja awal (12/13-17/18 tahun). Dalam jangka tiga atau empat tahun anak bertumbuh hingga tingginya hamir menyamai tinggi orang tuanya. Pertumbuhan anggota-anggota badan dan otot sering berjalan tidak seimbang. Bagi wanita mulai menunjukkan mekar-tubuh yang membedakan dengan tubuh kanak-kanak. Dalam hal kecepatan pertumbuhan, terutama nampak jelas pada usia 12-14 tahun; dimana remaja putri bertumbuh demikian cepat meninggalkan pertumbuhan remaja pria.

2.2 Bentuk-bentuk Perubahan Fisik Remaja

Adapun perubahan-perubahan fisik yang penting dan terjadi pada masa remaja adalah sebagai berikut:

a. Perubahan ukuran tubuh

Irama pertumbuhan fisik berubah menjadi cepat sekitar dua tahun sebelum anak mencapai taraf kematangan alat kelaminnya. Setahun sebelum pematangan ini, anak akan bertambah tinggi 10 samapai 15 cm dan bertambah berat 5 sampai 10 kg. pertumbuhan tubuh masih terus terjadi, tetapi dalam tempo yang sedikit lebih lamban. Selama empat tahun, pertumbuhan tinggi badan anak akan bertambah 25% dan berat tubuhnya hampir mencapai dua kali lipat. Anak laki-laki akan mencapai bentuk tubuh orang dewasa pada usia 19 sampai 20 tahun, sedangkan anak perempuan pada usia 18 tahun.

b. Perubahan proporsi tubuh

Ciri tubuh yang kurang proporsional pada masa remaja ini tidak sama untuk seluruh tubuh. Ada pula bagian tubuh yang semakin proporsional. Proporsi yang tidak seimbang ini akan berlangsung terus sampai seluruh masa puber dilalui sepenuhnya, sehingga proporsi tubuhnya mulai tampak seimbang menjadi proporsi orng dewasa . Perubahan ini terjadi, baik di dalam maupun bagian luar tubuh anak.

c. Ciri kelamin yang utama

Pada masa kanak-kanak, alat kelamin yang utama belum berkembang secara sempurna. Memasuki masa remaja, alat kelamin mulai berfungsi, yaitu pada saat ia berumur 14 tahun ketika pertama kali anak laki-laki mengalami “mimpi basah”. Pada anak perempuan, indung telurnya mulai berfungsi pada usia 13 tahun, yaitu pada saat pertama kali mengalami menstrurasi atau haid. Bagian lain dari alat perkembangbiakan pada anak perempuan saat ini masih belum mampu untuk mampu untuk mengandung. Masa interval ini disebut sebagai “saat steril” masa remaja.

d. Ciri kelamin kedua

Ciri kelamin kedua pada anak perempuan adalah membesarnya buah dada dan mencuatnya putting susu, pinggul lebih lebar dariipada lebar bahu, tumbuh rambut disekitar alat kelamin, tumbuh rambut di ketiak, dan suara bertambah nyaring. Ciri kelamin kedua pada anak laki-laki adalah tumbuh kumis dan jenggot, nada suara membesar, bahu melebar lebih besar daripada pinggul, timbul bulu dada dan bulu di sekitar alat kelamin, serta perubahan jaringan kulit menjadi lebih lebih kasar dan pori-pori membesar.

Ciri-ciri kelamin kedua inilah yang membedakan bentuk fisik anak laki-laki dan perempuan. Ciri ini pula yang sering menjadi daya tarik antar jenis kelamin. Pertumbuhan tersebut berjalan seiring dengan perkembangan ciri kelamin yang utama dan keduanya akan mencapai taraf kematangan pada tahun pertama atau tahun kedua masa remaja.

Adapun urutan perubahan fisik menurut Sarlito Wiraman (dalam Fatimah, 2010:48) adalah sebagai berikut:

1) Urutan perubahan fisik pada anak perempuan, misalnya

a. Terjadi pertumbuhan tulang-tulang (badan menjadi tinggi, anggota badan menjadi panjang),

b. Terjadi pertumbuhan payudara,

c. Tumbuh bulu yang halus berwarna gelap di tangan dan kakinya,

d. Mencapai pertumbuhan ketinggian badan yang maksimal setiap tahunnya,

e. Bulu kemaluan menjadi keriting,

f. Terjadi haid,

g. Tumbuh bulu-bulu pada ketiak,

2) Urutan perubahan fisik pada anak laki-laki

a. Terjadi pertumbuhan tulang-tulang,

b. Testis (buah pelir) membesar,

c. Tumbuh bulu-bulu berwarna gelap pada kemaluan,

d. Terjadi awal perubahan nada suara,

e. Mengalami ejakulasi (keluarnya air mani),

f. Bulu kemaluan menjadi keriting,

g. Pertumbuhan tinggi badan mencapai tingkat yang maksimal setiap tahunnya,

h. Tumbuh rambut-rambut halus di wajah (kumis, jambang, dan jenggot),

i. Tumbuh bulu ketiak,

j. Terjadi akhir perubahan suara,

k. Rambut-rambut di wajah bertambah tebal dan gelap,

l. Tumbul bulu di dada dan kaki,

2.3 Penyebab Perubahan Fisik pada Remaja.

Penyebab perubahan fisik pada remaja adalah adanya dua kelenjar yang menjadi aktif bekerja dalam sistim endoktrin. Kelenjar pituitari yang terletak di dasar otak mengeluarkan dua macam hormon yang erat hubungannya dengan perubahan masa remaja. Kedua hormon itu adalah hormon pertumbuhan yang menyebabkan terjadinya perubahan ukuran tubuh dan hormon gonadotropik atau sering disebut hormon yang merangsang gonad agar mulai aktif bekerja. Tidak berapa lama sebelum saat remaja dimulai, kedua hormon ini sudah mulai diproduksi dan pada saat remaja semakin banyak dihasilkan. Seluruh proses ini dikendalikan oleh perubahan yang terjadi dalam kelenjar endoktrin. Kelenjar ini diaktifkan oleh rangsangan yang dilakukan kelenjar hypotalamus, yaitu kelenjar yang dikenal sebagai kelenjar untuk merangsang pertumbuhan pada saat remaja dan terletak di otak.

Meskipun kelenjar gonad atau kelenjar kelamin sudah ada dan aktif sejak dilahirkan, kelenjar ini seolah-olah tidur dan baru aktif setelah diaktifkan oleh hormon gonadotropik dari kelenjar pituitari pada saat si anak memasuki tahap remaja. Segera setelah tercapai kematangan alat kelamin, hormon gonad akan menghentikan aktifitas hormon pertumbuhan. Dengan demikian, pertunbuhan fisik akan terhenti. Keseimbangan yang tepat antara kelenjar pituari dan gonad akan menimbulkan perkembangan fisik yang tepat pula. Sebaliknya, bila terjadi gangguan dalam keseimbangan ini, akan timbul penyimpangan pertumbuhan.

Selama masa remaja, seluruh tubuh mengalami perubahan struktur tubuh maupun fungsinya. Dalam kenyataannya, hampir semua perubahan bagian tubuh mengikuti irama yang tetap, sehingga waktu kejadiannya dapat diperkirakan sebelumnya. Perubahan tersebut tampak jelas pada bagian pertama masa remaja.

2.4 Faktor-faktor yang Memengaruhi Pertumbuhan Fisik Remaja.

Adapun faktor-faktor yang memengaruhi pertumbuhan fisik remaja adalah sebagai berikut:

a) Pengaruh keluarga

Pengaruh keluarga meliputi faktor keturunan maupun faktor lingkungan. Karena faktor keturunan, seorang anak dapat lebih tinggi atau panjang daripada anak lainnya, jika ayah dan ibu atau kakeknya tinggi dan panjang. Faktor lingkungan akan membantu menentukan tercapai tidaknya perwujudan potensi keturunan yang dibawa anak. Pada setiap tahapan usia, lingkungan lebih banyak pengaruhnya terhadap berat tubuh daripada tinggi tubuh.

b) Pengaruh gizi

Anak-anak yang memperoleh gizi yang cukup biasanya akan lebih tinggi tubuhnya dan sedikit lebih cepat mencapai masa remaja dibanding dengan mereka yang memperoleh gizi buruk. Lingkungan dapat memberikan pengaruh bagi remaja sedemikian rupa, sehingga menghambat atau mempercepat potensi untuk pertumbuhan di masa remaja.

c) Gangguan emosional

Anak yang sering mengalami gangguan emosional akan mengalami terbentuknya steroid adrenal yang berlebihan, dan ini akan membawa akibat berkurangnya pembentukan hormon pertumbuhan di kelenjar pituitari. Bila terjadi hal demikian, pertumbuhan awal remajanya akan terhambat dan tidak tercapai berat tubuh yang seharusnya.

d) Jenis kelamin

Anak laki-laki cenderung lebih tinggi dan lebih berat daripada anak perempuan, kecuali pada usia antara 12 dan 15 tahun. Anak perempuan biasanya akan sedikit lebih tinggi dan lebih berat daripada anak laki-laki. Terjadi perbedaan berat dan tinggi tubuh ini karena bentuk tulang dan otot pada anak laki-laki memang berbeda dari anak perempuan.

e) Status sosial ekonomi

Anak-anak yang berasal dari keluarga dengan status ekonomi rendah, cenderung lebih kecil daripada anak yang berasal dari keluarga yang status sosial ekonominya tinggi. Keluarga yang kaya akan dapat memenuhi kebutuhan primer anak-anaknya. Sebaliknya, keluarga miskin tidak akan dapat memenuhi sembilan kebutuhan primernya secara memadai.

f) Kesehatan

Anak-anak sehat dan jarang sakit biasanya akan memiliki tubuh yang lebih berat daripada anak yang sakit-sakitan. Kurangnya perawatan kesehatan akan menyebabkan anak mudah terserang penyakit. Cara makan yang salah dalam arti makan tanpa memerhatikan keseimbangan gizi dan vitamin juga dapat menyebabkan tubuh menjadi sakit.

g) Pengaruh bentuk tubuh

Bentuk tubuh mesamorf, ektomorf, atau endomorf akan memengaruhi besar kecilnya tubuh anak. Misalnya, anak yang bentuk tubuhnya mesomorf akan lebih besar daripada yang endomorf atau eksomorf, karena memang mereka lebih gemuk dan berat.

2.5 Pengaruh Pertumbuhan Fisik terhadapTingkah Laku Remaja.

Perubahan-perubahan fisik itu menyebabkan kecanggungan bagi para remaja karena ia harus menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya. Pertumbuhan badan yang mencolok misalnya, atau pembesaran payudara yang terlalu cepat akan membuat remaja merasa malu atau kurang percaya diri. Demikian pula dalam menghadapi haid dan “mimpi” yang pertama. Anak-anak remaja itu perlu mengadakan penyesuaian tingkah laku dan dukungan dari pihak lain orang tua.

Perubahan fisik selalu disertai oleh perubahan sikap dan perilaku. Keadaan ini sering menjadi sedikit parah karena perbedaan sikap orang-orang di sekelilingnya dan sikapnya sendiri dalam menanggapi perubahan fisik tersebut. Dalam masa remaja, perubahan yang terjadi sangat mencolok, sehingga dapat mengganggu keseimbangan yang sebelumnya sudah terbentuk. Perilaku mereka mendadak semakin sulit diduga dan sering agak melawan nilai dan norma sosial yang berlaku. Oleh karena itu masa ini sering dinamakan sebagai masa negatif atau masa pancaroba. Pada saat irama pertumbuhan sedikit lambat dan perubahan tubuhnya telah sempurna maka akan terjadi keseimbangan kembali.

Meskipun pengaruh pubertas terhadap remaja berbeda-beda, cara mereka melampiaskan gangguan ketidakseimbangan itu hampir sama. Beberapa bentuk pelampiasan yang dapat terlihat adalah ia menjadi mudah tersinggung, sangat pemalu, ada kecenderungan menarik diri dari keluarga atau teman, lebih senang menyendiri, menentang otorita orang tua dan guru, mendambakan kemandirian, sangat kritis terhadap orang lain, tidak suka melakukan tugas di rumah ataupun di sekolah, dan sangat tampak bahwa dirinya tertekan dan tidak bahagia.

Karena sedang terjadi perubahan beberapa kelenjar pertumbuhan yang menyebabkan terjadinya perubahan dalam bentuk ukuran tubuhnya, anak-anak remaja ini secara fisik sering merasa sangat tidak nyaman, sering mengeluh, gelisah, nafsu makan berkurang, mengalami gangguan pencernaan, sakit kepala, sakit punggung, dan sebagainya karena tubuhnya bertambah besar dan panjang. Gangguan ini lebih banyak menghinggapi anak perempuan daripada anak laki-laki.

Anak-anak remaja terlalu memerhatikan keadaan tubuhnya yang sedang mengalami proses perubahan. Tanggapan atas perubahan dirinya itu dapat digolongkan menjadi dua, yaitu mereka yang terlalu memerhatikan normal atau tidak dirinya dan mereka yang terlalu memikirkan tepat atau tidaknya kehidupan kelaminnya. Jika mereka memerhatikan teman sebayanya, kemudian dirinya berebeda dari mereka maka akan muncul pikiran tentang normal tidaknya dirinya. Misalnya, perbedaan dalam hal kecepatan pertumbuhan dapat menimbulkan kekhawatiran dalam dirinya. Anak-anak yang cepat dan lebih awal tumbuh sering merasa khawatir bahwa pada masa dewasanya nanti, tubuhnya akan terlalu besar dan tinggi, sedangkan anak yang mulai tumbuh pendek sampai dewasa akan an kehidupan merasa khawatir pertumbuhan dan kehidupan kelaminnya tidak akan berkembang secara normal.

Apabila tertinggal dari teman sebayanya dalam hal minat dan kegiatan lain, atau kurang berminat dalam kegiatan sebayanya, mereka lalu khawatir apakah mereka akan menjadi dewasa. Terlalu memerhatikan keadaan kehidupan kelaminnya juga merupakan hal yang biasa terjadi dalam tahap ini. Pada saat seorang mencapai remaja, dalam pikirannya telah terbentuk konsep mengenai wajar-tidaknya kehidupan kelamin dalam penampilan seseorang. Konsep ini terbentuk melalui pengalaman si anak sehari-hari misalnya dari televisi, buku cerita, komik, atau dari orang-orang disekelilingnya yang dikagumi. Bila mereka berpendapat bahwa dirinya tidak wajar. Sayangngnya, konsep yang telah terbentuk ini sukar sekali dihilangkan, bahkan mungkin dapat menetap seumur hidupnya.

Salah satu dari beberapa konsekuensi masa remaja yang paling penting adalah pengaruh jangka panjangnya terhadap sikap, perilaku sosial, minat, dan kepribadiannya. Sejumlah penelitian telah menemukan bahwa ciri kepribadian dan sikap tertentu yang sudah terbentuk ini biasanya sulit dihilangkan, bahkan dalam beberapa kasus tampak semakin parah. Pengaruh ketidaknyamanan pada masa remaja yang paling menetap adalah dalam hal penyimpangan kematangan kelaminnya. Perkembangan kehidupan kelamin yang tidak wajar ini akan menimbulkan pengaruh pada anak laki-laki dan juga pada anak perempuan, bahkan pengaruh itu tidak hanya terjadi di masa remaja, tetapi dapat berlanjut lebih lama lagi. Bagi anak laki-laki yang mengalami perkembangan kelamin lebih awal, secara sosial lebih menguntungkan, sedangkan bagi anak perempuan tidak sedemikian halnya.

Tinggi, berat, dan kekuatan tubuh yang jauh melebihi teman sebayanya bagi anak laki-laki akan dapat meningkatkan citra dirinya di depan teman sebayanya dari kedua jenis kelamin. Sebaliknya, bila kematangan kelamin ini terlalu cepat terjadi pada anak gadis, ia akan memperoleh sebutan atau label yang tidak menyenangkan. Keadaan ini sering menimbulkan pengaruh buruk pada anak perempuan yang termasuk lambat dalam kematangan kelaminnya, ia akan kehilangan kesempatan untuk menaikkan citra dirinya, merasa kurang dihargai, dan sering diabaikan.

Hurlock (1992) mengemukakan perubahan yang terjadi, yaitu:

a. Ingin menyendiri

b. Bosan

c. Inkoordinasi

d. Antagonis sosial

e. Emosi yang meninggi

f. Hilangnya kepercayaan diri

g. Terlalu sederhana

2.6 Upaya Pertumbuhan Fisik Remaja dan Implikasinya Terhadap Pendidikan

Dalam batas-batas tertentu, proses pembelajaran dapat diselenggarakan sedemikian rupa sehingga dapat membantu percepatan pertumbuhan fisik subjek didik. Dalam proses pembelajaran itu dapat diupayakan berbagai stimulus secara sistematis, antara lain:

a) Menjaga kesehatan badan.

Kebiasaan hidup sehat, bersih, dan olahraga secara teratur akan dapat membantu menjaga kesehatan pertumbuhan tubuh. Namun, bila ternyata masih juga terkena penyakit, haruslah segara diupayakan agar lekas sembuh. Sebab kesehatan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan fisik.

b) Memberi makanan yang baik.

Makanan yang baik ialah makanan yang banyak mengandung gizi, segar, sehat, dan tidak tercemar oleh kotoran atau penyakit. Baik buruknya makanan akan menentukan pula pertumbuhan anak.

Implikasinya bagi pendidikan adalah perlunya memperhatikan faktor berikut:

a) Menyediakan sarana dan prasarana

Faktor sarana dan prasarana ini jangan sampai menimbulkan gangguan kesehatan pada anak. Misalnya ruangan kelas, tempat duduk dan meja, dan sebagainya.

b) Waktu istirahat

Istirahat sangat dibutuhkan untuk menghilangkan rasa lelah dan mengumpulkan tenaga baru, istirahat yang cukup sangat diperlukan.

c) Diadakannya jam olahraga bagi siswa

Pelajaran olahraga sangat penting bagi pertumbuhan fisik anak karena dengan olahraga yang dijadwalkan secara teratur oleh sekolah berarti pertumbuhan fisik anak akan memperoleh stimulasi secara teratur pula.

Permasalahan dalam pertumbuhan fisik sering disebabkan karena perasaan dan pikiran mengenai fisiknya. Remaja yang banyak perhatiannya terhadap kehidupan kolektif, perilakunya akan banyak dipengaruhi oleh perilaku kelompoknya. Kelompok remaja dapat terbentuk di sekolah seperti kelompok tim olahraga, tim kesenian, pramuka, dan sebagainya. Kegiatan tersebut dapat memupuk pertumbuhan fisik remaja. Namun kadang kala remaja juga dapat terjerumus dalam suatu kelompok yang membuat mereka menjadi remaja yang tidak baik menurut pandangan keluarga maupun masyarakat, biasanya kegiatan yang bernilai negatif tersebut seperti ngebut, begadang, miras, dan semacamnya yang mengganggu kesehatannya. Oleh karena itu, pengembangan program kelompok remaja ke arah kegiatan yang bernilai positif oleh para guru di sekolah merupakan upaya positif untuk membantu para remaja dalam pertumbuhan fisik mereka.

Pengembangan kegiatan pramuka, penyelenggaraan senam kesegaran jasmani, dan pembiasaan hidup bersih perlu diprogram sebagai kegiatan ko-kurikuler dan ekstrakurikuler di sekolah menengah. Pembentukan kelompok atas bimbingan guru merupakan kegiatan yang dapat membentuk mereka untuk belajar secara bertanggung jawab. Maka pada saat pembentukan kelompok belajar atas bimbingan guru dan atau orang tua, sesungguhnya mereka telah membentuk remaja untuk belajar teratur dan bertanggung jawab. Di samping itu, baik guru maupun orang tua perlu membantu remaja agar memahami keadaan fisik dan perubahan-perubahan yang dialami remaja, seperti memberikan pengarahan kepada mereka berkaitan dengan pertumbuhan yang dialaminya.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Pertumbuhan fisik remaja merupakan pertumbuhan yang paling pesat. Remaja tidak hanya tumbuh dari segi ukuran (semakin tinggi atau semakin besar), tetapi juga mengalami kemajuan secara fungsional, terutama organ seksual atau “pubertas”.

Adapun perubahan-perubahan fisik yang penting dan terjadi pada masa remaja meliputi; perubahan ukuran tubuh, perubahan proporsi tubuh, ciri kelamin utama, ciri kelamin kedua.

Penyebab perubahan fisik pada remaja adalah adanya dua kelenjar yang menjadi aktif bekerja dalam sistim endoktrin. Yaitu kelenjar pituitari yang terletak di dasar otak mengeluarkan dua macam hormon yang erat hubungannya dengan perubahan masa remaja. Kedua hormon itu adalah hormon pertumbuhan yang menyebabkan terjadinya perubahan ukuran tubuh dan hormon gonadotropik atau sering disebut hormon yang merangsang gonad agar mulai aktif bekerja.

Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan fisik remaja adalah pengaruh keluarga, pengaruh gizi, gangguan emosional, jenis kelamin, status sosial ekonomi, kesehatan, pengaruh bentuk tubuh, dan lingkungan.

Perubahan-perubahan yang terjadi pada masa remaja sering memengaruhi sikap dan perilaku remaja itu sendiri, seperti ingin menyendiri, bosan, inkoordinasi, antagonis sosial, emosi yang meninggi, hilangnya kepercayaan diri, dan terlalu sederhana.

Upaya untuk pertumbuhan remaja meliputi memberi makanan yang baik dan menjaga kesehatan badan. Kegiatan bernilai posotif seperti olah raga, pramuka, dan seni dapat memupuk pertumbuhan fisik remaja, serta pembentukan kelompok belajar. Implikasinya bagi pendidikan adalah perlunya menyediakan sarana dan prasarana, waktu istirahat, dan diadakannya jam olahraga bagi siswa.

3.2 Saran

Dalam upaya untuk membantu percepatan pertumbuhan fisik remaja, diharapkan adanya sarana dan prasarana yang mendukung, baik di sekolah maupun di rumah. Selain itu diperlukan pengawasan yang lebih terhadap seorang remaja agar tidak terjadi penyimpangan perilaku pada mereka dan perlunya pengarahan tentang pertumbuhan remaja dari orang tua dan pihak sekolah.

DAFTAR PUSTAKA

Fatimah, Enung. 2006. Psikologi Perkembangan (Perkembangan Peserta Didik). Bandung: C.V. Pustaka Setia.

Hurlock, E. B. 1990. Psikologi Perkembangan. Alih Bahasa Isawidayanti dan Soedjarwo. Jakarta: Erlangga.

Mappiare , Andi. 1982. Psikologi Remaja. Surabaya: Usaha Nasional.

_________. _______. Pertumbuhan Fisik Remaja, (online), http://www.scribd.com/doc/28552879/PERTUMBUHAN-FISIK-REMAJA, diakses pada tanggal 12 November 2010 pukul 11:11.

_________. 2010. Pertumbuhan fisik dan kesehatan remaja, (online), http://okbip.blogspot.com/2010/04/pertumbuhan-fisik-dan-kesehatan-remaja.html , diakses pada tanggal 14 November 2010 pukul 11:14.riaerliana

FISIK REMAJA

zye fitriya